Hukum dan Cara Memandikan Jenazah Syahid, Belum Khitan dan Prematur

Advertisement

Hukum dan Cara Memandikan Jenazah Syahid, Belum Khitan dan Prematur

Wednesday, January 23, 2019

CARA DAN HUKUM MEMANDIKAN JENAZAH SYAHID, BELUM KHITAN DAN PREMATUR

A. JENAZAH SYAHID

Mayit syahid adalah orang yang meninggal dalam pertempuran memerangi orang kafir atau musyrik. Sedangkan hukum memandikannya adalah HARAM, dengan alasan menetapkan bekas atau tanda-tanda syahid, walaupun mereka dalam keadaan Haid, Nifas atau Junub. (Bajuri, 1/244).

Adapun orang yang meninggal disebabkan luka karena memerangi orang kafir dan meninggalnya setelah pertempuran selesai (misalnya mati dirumah) maka wajib dimandikan sebagaimana lazimnya jenazah muslim. (Mughnilmuhtaj, 1/475).

B. JENAZAH BELUM KHITAN

Cara memandikannya sebagaimana jenazah yang sudah khitan.
  • Menurut pendapat Ibnu Hajar, setelah jenazah tersebut dimandikan kemudian ditayamumi sebagai pengganti membasuh anggota tubuh yang berada dibawah Qulubnya , bila Qulub tersebut tidak dapat dibuka kecuali dengan melukai walaupun bawah Qulub tersebut najis (lidlorurot).
  • Menurut pendapat Romli, bila anggota tubuh dibawah Qulub suci, maka setelah dimandikan terus ditayamumi sebagai pengganti anggota tubuh yang belum dibasuh. Bila anggota tubuh dibawah Qulub najis, maka tidak ditayamumi dan dikubur tanpa disholati, karena syarat tayamum adalah harus terlebih dahulu menghilangkan najis.
Dari kedua pendapat diatas sebaiknya kita mengikuti pendapat Ibnu Hajar (ditayamumi), karena mengubur jenazah muslim tanpa disholati sebagaimana masalah diatas berarti tidak menghormati jenazah. Dan berdasarkan dua pendapat diatas, haram memotong Qulub jenazah walaupun ia maksiat dengan menunda pemotongan Qulubnya (khitan). (I'anah, 2/119).
Humum dan Cara Memandikan Jenazah Syahid, Prematur & Belum Khitan

C. JENAZAH PREMATUR atau RUNTUHAN (SIQTHU)

Yang dimaksud dengan Siqthu (runtuhan) ialah janin yang gugur sebelum batas minimal usia kehamilan (enam bulan).
  • Bila janin tersebut ada tanda-tanda hidup , misalnya bergerak-gerak, maka hukum janin tersebut sebagaimana jenazah dewasa.
  • Bila tidak ada tanda-tanda hidup dan sudah terlihat wujudnya atau bentuknya maka wajib dimandikan, dikafani, dan dikubur (tidak disholati).
  • Dan bila belum terlihat bentuknya maka tidak ada kewajiban apapun tetapi sunah ditutup dan dikubur.
  • Adapun janin yang gugur setelah melewati batas minimal masa hamil (enam bulan) maka tidak dinamakan Siqthu, dan hukum perawatannya sebagaimana jenazah dewasa walaupun tidak diketahui hidupnya, bahkan walaupun belum terlihat bentuk dan wujudnya. (Tanwirulqulub, 210-211)
Catatan : 

Jadi urutan dalam memandikan jenazah adalah sebagaimana berikut :
1. Jenazah dititeh terlebih dahulu.
2. Jenazah di wudhui.
3. Jenazah di Mandikan.

Manakah yang lebih utama saat memandikan jenazah, apakah dengan berdzikir atau diam? 
Menurut Imam Nawawi dalam Kitab Adzkar, pada saat memandikan dan mengkafani jenazah, disunnahkan memperbanyak dzikir dan mendo'akan jenazah. (Adzkar Nawawi, 140).