Syarat-syarat Memandikan Jenazah

Advertisement

Syarat-syarat Memandikan Jenazah

Tuesday, January 22, 2019

SYARAT MEMANDIKAN JENAZAH


Memandikan jenazah hukumnya fardhu kifayah, kerena sabda Rasulullah SAW ketika ada orang yang jatuh dari untanya.

"Mandikanlah ia dengan air dan daun Bidara" (HR. Bukhori Muslim)

A. Jenazah laki-laki
  1. Bila jenazah laki-laki maka yang paling utama memandikannya adalah ashobah dengan urutan sbb : Bapak, kakek, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki, anak laki-laki dari saudara laki-laki, paman, kemudian anak laki-laki paman, karena mereka ashobah yang lebih berhak mensholati, maka mereka juga berhak memandikannya.
  2. Bila jenazah laki-laki punya istri, maka istrinya boleh ikut memandikannya karena ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a, "bahwa abu bakar r.a berwasiat kepada asma binti Uwais agar ia ikut memandikan Abu Bakar".

Maka jika demikian siapakah yang lebih didahulukan diantara keduanya (ashobah dan istri) tersebut? Dalam masalah ini ada 2 pendapat yaitu : 
a). Istri didahulukan dari pada ashobah karena istri boleh melihat anggota tubuh jenazah suaminya, sedangkan yang tidak boleh dilihat oleh ashobah yaitu bagian tubuh antara pusar sampai lutut.  
b). Ashobah boleh didahulukan dari pada istri karena mereka lebih berhak mensholati ya. (Muhaddzab, 1/127).

    B. Jenazah Perempuan

    1. Bila jenazah perempuan tidak punya suami maka yang memandikannya adalah para wanita dan yang paling utama adalah saudara perempuan semahrom, kemudian baru perempuan-perempuan yang lain (ajnabiyat). Akan tetapi apabila pada saat itu tidak ditemukan wanita-wanita yang bisa memandikan jenazah, maka jenazah perempuan boleh dimandikan oleh laki-laki terdekat (Al aqrob fal aqrob).
    2. Bila jenazah perempuan punya suami, maka suami boleh ikut memandikannya karena ada hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a sebagai berikut : "kemudian Rasulullah Saw bersabda, apakah yang menyusahkanmu ? Seandainya engkau mati sebelum aku, maka aku akan memandikannya, mengkafaninya, mensholati atas dirimu dan menguburkannya. " (HR. Ahmad).
    Kemudian , siapakah yang lebih didahulukan diantara keduanya (para wanita dan suami) tersebut? Mengenai hal ini ada 2 pendapat juga yaitu :

    a). Suami lebih didahulukan dari pada wanita-wanita tersebut , karena ia boleh melihat anggota tubuh jenazah istrinya yang tidak boleh dilihat oleh para wanita (antara pusar sampai lutut).
    b). Para wanita didahulukan dari para suami sesuai dengan urutan yang telah disebutkan diatas. (Muhaddzab, 1/127).

    Bila jenazah perempuan dan tidak ada yang hadir kecuali laki-laki lain (ajnabi) dan juga sebaliknya, bila jenazah laki-laki dan tidak ada yang hadir kecuali perempuan lain (ajnabiyat) maka menurut 'IROQIYYIN, ROUYANI, AKTSARIIN Jenazah tersebut tidak dimandikan tetapi cukup ditayamumi. Sedangkan menurut pendapat QOFAL, IMAM HAROMAIN dan IMAM AL GHOZALI Jenazah tersebut dimandikan tetapi pakaiannya tidak dilepas dan yang memandikannya memakai sarung tangan serta memejamkan matanya karena tidak boleh melihat tubuh jenazah selain dhorurot. (Roudlhoh, 2/30).


    Referensi dari buku panduan merawat jenazah LBM MWC NU Kec. Selopampang Kab. Temanggung.

    Terimakasih semoga bermanfaat. Salam Santri NU. NKRI HARGA MATI.